Jumat, 24 Februari 2012

hakikat berfikir


HAKIKAT DAN CIRI BELAJAR

BAB I
Pendahuluan

A.    Latar Belakang
Kita semua mungkin tidak merasa asing dengan istilah Belajar, karena istilah ini tidak terbatas penggunannya dalam kegiatan Formal Pendidikan di Sekolah, akan tetapi juga dipergunakan untuk menyatakan aktivitas seharian yang berkenaan dengan upaya untuk mendapatkan informasi, pengetahuan atau keterampilan baru yang belum diketahui atau untuk memperluas dan memperkokoh Pengetahuan tentang sesuatu yang telah dimiliki sebelumnya.
Meskipun Istilah Belajar tidak Asing lagi bagi kita, namun dipandang perlu untuk mengkaji kembali secara lebih mendalam agar kita dapat menemukan makna Esensial Belajar, sekaligus pula mengklarifikasi apakah kegiatan-kegiatan yang selama ini kita sebut Belajar, sudah sesuai dengan Hakikat Belajar sesungguhnya.   

B.     Permasalahan
Dari latar belakang diatas, penulis membuat permasalahan sebagai berikut:
1.      Menjelaskan Pengertian Belajar.
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Belajar.
3.      Membedakan Pengertian Belajar menurut beberapa Aliran.
4.      Menguraikan Tujuan Belajar.
5.      Memberikan Contoh Implementasi Tujuan Belajar pada Kegiatan Pembelajaran.
6.      Menganalisa implikasi prinsip-prinsip belajar dalam Pembelajaran.


















BAB II
Pembahasan

A.    Pengertian Kecerdasan Emosional
Istilah kecerdasan emosional pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh Psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Meyer dari University of New Hampshire (Shapiro, 1997:5). Beberapa bentuk kualitas emosional yang dinilai penting bagi keberhasilan, antara lain: Empati, Mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan serta sikap hormat.
Menurut Daniel Goleman, menjelaskan bahwa beberapa konsep keliru yang paling lazim terjadi dan harus diluruskan, Pertama, kecerdasan emosi tidak hanya berarti “bersikap ramah”. Pada saat-saat tertentu yang diperlukan bukan “bersikap ramah” melainkan, mungkin sikap tegas yang barangkali memang tidak menyenangkan, tetapi mengungkapkan kebenaran yang selama ini dihindari. Kedua, kecerdasan emosi bukan berarti memberikan kebebasan kepada perasaan untuk berkuasa “memanjakan perasaan-perasaan”, melainkan mengelola perasaan-perasaan sedemikian rupa sehingga terekspresikan secara tepat dan efektif, yang memungkinkan orang bekerjasama dengan lancer menuju sasaran bersama.
Salovey dan Meyer mula-mula mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai “himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan”.
Pendapat keduanya memberikan isyarat bahwa keterampilan EQ bukanlah lawan dari keterampilan IQ atau keterampilan kognitf, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun empirik. Idealnya seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif sekaligus keterampilan sosial emosional. Barangkali perbedaan mendasar antara IQ dan EQ adalah, bahwa EQ tidak dipengaruhi oleh faktor keturunan, sehingga membuka kesempatan bagi orang tua dan para pendidik untuk melanjutkan apa yang telah disediakan oleh alam agar anak mempunyai peluang lebih besar untuk meraih kesuksesan. Dengan demikian kecerdasan emosional lebih merupakan hasil dari aktivitas individu dalam melatih fungsi-fungsi emosional diri sendiri atau oleh orang lain sehingga lebih merupakan hasil belajar.

B.     Ciri-ciri Kecerdasan Emosional
Menurut sejumlah penelitian, telah banyak terbukti bahwa kecerdasan emosi memiliki peran yang jauh lebih signifikan dibandingkan kecerdasan Intelektual (IQ). Kecerdasan otak (IQ) barulah sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, namun kecerdasan emosilah yang sesungguhnya (hampir seluruhnya terbukti) mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi.
Goleman menggambarkan beberapa ciri kecerdasan emosional yang terdapat pada diri seseorang berupa:
  1. kemampuan memotivasi diri sendiri;
  2. ketahanan menghadapi frustasi;
  3. kemampuan mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan;
  4. kemampuan menjaga suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdo’a.
Kemampuan-kemampuan ini ternyata mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap diri seseorang untuk mampu mengatasi berbagai masalah kehidupan.
Kemampuan memotivasi diri sendiri merupakan kemampuan internal pada diri seseorang berupa kekuatan menjadi suatu energi yang mendorong seseorang untuk mampu menggerakan potensi-potensi fisik dan psikologis atau mental dalam melakukan aktivitas tertentu sehingga mampu mencapai keberhasilan yang diharapkan.
Kemampuan menghadapi masalah akan mendorong anak untuk memiliki daya tahan yang lebih tinggi bilamana suatu saat ia dihadapkan pada persoalan-persoalan yang lebih kompleks dan rumit yang mungkin menyeret dirinya menjadi frustasi.
Kemampuan mengendalikan dorongan hati dan tidak melbih-lebihkan kesenangan menjadi ciri dari kecerdasan emosi. Kematangan berpikir anak, tidak dapat sekedar ditunjukkan oleh kemampuan nalar, akan tetapi justru lebih banyak ditunjukkan melalui isyarat-isyarat emosional. Ketika anak menghadapi sukses seringkali kita melihat mereka mengaktualisasikan dengan sikap yang berlebih-lebihan dan tidak jarang lupa dengan lingkungannya.
Kemampuan menjaga suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir juga merupakan salah satu ciri dari kecerdasan emosional. Kemampuan ini terkait dengan kemampuan mengatasi masalah, karena seseorang yang telah mampu mengatasi masalah-masalah yang dihadapi akan lebih dewasa dalam menghadapi persoalan-persoalan lebih berat
C.     Emosi dan Kegunaannya
Kecerdasan emosi merupakan bagian dari aspek kejiwaan seseorang yang paling mendalam, dan merupakan suatu kekuatan, karena adanya emosi itu manusia dapat menunjukkan keberadaannya dalam masalah-masalah manusiawi. Emosi menyebabkan seseorang memiliki rasa cinta yang sangat mendalam sehingga seseorang bersedia melakukan suatu pengorbanan yang sangat besar sekalipun, walau kadang-kadang pengorbanan itu secara lahiriah tidak memberikan keuntungan langsung pada dirinya bahkan mungkin mengorbankan dirinya sendiri. Kekuatan emosi seringkali mengalahkan kekuatan nalar, sehingga ada suatu perbuatan yang mungkin secara nalar tidak mungkin dilakukan seseorang, tetapi karena kekuatan emosi kegiatan itu dilakukan.
Karena emosi merupakan suatu kekuatan yang dapat mengalahkan nalar, maka harus ada upaya untuk mengendalikan, mengatasi dan mendisiplinkan kehidupan emosional, dengan memberlakukan aturan-aturan guna mengurangi ekses-ekses gejolak emosi, terutama nafsu yang terlampau bebas dalam diri manusia yang seringkali mengalahkan nalar. Pengembangan emosi dikalangan anak-anak akan membantu mereka mengambil keputusan dan dapat menilai mana sesuatu yang harus dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Dengan demikian berarti pula melindungi mereka dari propaganda dan slogan yang tidak sesuai dengan diri dan nilai-nilai yang dianutnya.
Manusia secara universal memiliki dua jenis tindakan pikiran, yaitu tindakan pikiran emosional (perasaan) dan tindakan pikiran rasional (berpikir). Kedua cara pemahaman yang secara fundamental berbeda ini bersifat saling mempengaruhi dalam membentuk mental manusia. Pertama pikiran rasional, adalah model pemahaman yang lazimnya kita sadari: lebih menonjolkan kesadarannya, bijaksana, mampu bertindak hati-hati dan merefleksi. Tetapi bersamaan dengan itu ada sistem pemahaman yang lain: yang implusif dan berpengaruh besar bila kadang-kadang tidak logis, yaitu fikiran emosional. Dikotomi rasional/emosional kurang lebih sama dengan istilah awam antara ”hati” dan ”kepala”. Mengatakan sesuatu yang benar di dalam hati merupakan tingkat keyakinan yang berbeda yang cenderung merupakan kepastian lebih mendalam daripada menganggap benar dengan menggunakan akal.
Uraian diatas menyiratkan betapa pentingnya keseimbangan akal dan emosi, menyesuaikan kepala dan hati, dan bilamana keseimbangan ini goyah akan terjadi peseteruan nalar dan perasaan. Yang mendasari semua ini adalah bagaimana seseorang dapat memahami penggunaan emosi secara cerdas sehingga dia akan dapat menjalankan aktivitas kehidupannya dengan lebih baik dalam suatu keseimbangan.
D.    Penerapan Kecerdasan Emosional
Daya-daya emosi yang dimiliki oleh orang-orang dewasa sesungguhnya berakar dari masa kehidupan kanak-kanak. Akar perbedaan emosi meskipun untuk sebagian bersifat biologis dapat pula diselusuri dari kehidupan masa kanak-kanak dan dari dua dunia emosi terpisah yang dihuni untuk laki-laki dan yang dihuni oleh anak-anak perempuan ketika mereka tumbuh dewasa. Perbedaan-perbedaan perlakuan orang tua terhadap anak laki-laki dan perempuan itu sendiri terhadap suatu persoalan memperkuat sinyal perbedaan ketika mereka dewasa.
Perbedaan-perbedaan dalam pendidikan emosi menghasilkan keterampilan-keterampilan berbeda, anak perempuan mahir membaca baik sinyal emosi verbal maupun nonverbal, mahir mengungkapkan dan mengkonsumsikan perasaan-perasaannya, dan anak laki-laki menjadi cakap dalam meredam emosi berkaitan dengan perasaan rentan, salah, takut dan sakit. Jika dilihat lebih jauh dalam kehidupan berumah tangga, maka umumnya kaum wanita memasuki jenjang perkawinan dengan sikap siap untuk berperan sebagai menejer emosi, sedangkan pria datang dengan pemahaman yang jauh lebih sempit tentang pentingnya tugas untuk membantu mempertahankan kelanggengan hubungan. Akibat perbedaan-perbedaan emosi antara suami dan isteri akhirnya menimbulkan keluhan-keluhan dan ketidakcocokan dalam kehidupan keluarga. Kegagalan dalam mengatasi hal-hal ini dapat menyebabkan pasangn suami isteri akan rawan terhadap keretakan-keretakan emosional yang pada akhirnya dapat menghancurkan hubungan mereka.
Dalam proses pembelajaran, penerapan kecerdasan emosional dapat dilakukan secara luas dalam berbagai sesi, aktivitas dan bentuk-bentuk spesifikasi pembelajaran. Pemahaman guru terhadap kecerdasan emosional serta pengetahuan tentang cara-cara penerapannya kepada anak pada saat ini merupakan bagian penting dalam rangka membantu mewujudkan perkembangan potensi-potensi anak secara optimal. Karena itu berikut bentuk konkrit upaya mengembangkan kecerdasan emosional anak.
  1. Mengembangkan Empati dan Kepedulian
Beberapa cara yang perlu dilatihkan kepada anak-anak untuk mengembangkan sikap empati dan kepedulian, antara lain:
a.        Memperketa tuntutan pada anak mengenai sikap peduli dan tanggungjawab.
b.       Mengajarkan dan melatih anak mempraktekkan perbuatan-perbuatan baik
c.        Melibatkan anak di dalam kegiatan-kegiatan layanan masyarakat.
  1. Mengajarkan Kejujuran dan Integritas
Beberapa hal penting yang dapat dilakukan guru atau orang tua dalam menumbuhkan kejujuran anak, antara lain adalah:
a.        usahakan agar pentingnya kejujuran terus menerus menjadi topik dalam rumah tangga, kelas dan sekolah.
b.       Membangun kepercayaan dengan menyampaikan cerita-cerita yang bertemakan saling kepercayaan, atau melalui berbagai bentuk permainan.
c.        Menghormati privasi anak, memberikan ruang bagi tumbuhnya rasa percaya pada anak dan penghargaan pada anak.

  1. Mengajarkan Memecahkan Masalah
Dalam praktik pembelajaran, mengajarkan anak memecahkan masalah akan lebih baik bilamana juga sekaligus diajarkan cara-cara berpikir sistematik.karena itu langkah-langkah pemecahan masalah berikut sangat tepat untuk diterapkan, yaitu:
a.        mengidentifikasi masalah
b.       memikirkan alternatif pemecahan
c.        membandingkan alternatif-alternatif pemecahan yang mungkin akan dipilih
d.       menentukan pemecahan yang terbaik.
Dalam mengajarkan siswa memecahkan masalah hendaknya memperhatikan secara sungguh-sungguh pengalaman siswa, terutama sekali di kalangan siswa yang berada pada jenjang pendidikan yang lebih rendah.

BAB III
Kesimpulan

Hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh anak adalah terjadinya perubahan perilaku holistik. Pandangan yang menitikberatkan hasil belajar dalam bentuk penambahan pengetahuan saja merupakan wujud dari pandangan yang sempit, karena belajar dan pembelajaran harus dapat menyentuh dimensi-dimensi individual anak secara menyeluruh, termasuk dimensi emosional yang dalam waktu cukup lama luput dari perhatian.
Melalui kegiatan belajar mengajar, guru harus menyediakan atau menciptakan ruang yang luas dan iklim yang kondusif untuk berkembangnya kecerdasan emosional anak. Kemampuan guru dalam melatih setiap dimensi-dimensi emosi harus dipandang sebagai bagian esensial pembelajaran.   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar